Jumat, 04 Juni 2010

Cintaku di Bidak Catur

Sore ini cuaca tampak lebih cerah dari biasanya. Aku memutuskan untuk melakukan rencanaku yang telah tersusun sebelumnya. Aku akan menyatakan cintaku ke Mella. Cewek yang terkenal dengan kepandaian, kecantikan dan sikap jual mahalnya. Kebetulan hari ini dia tidak ada les atau pun kesibukan lain.

Tiga hari yang lalu, aku telah merencanakan hal ini dengan teman-temanku. Aku meminta teman-temanku untuk membantuku menyatakan cinta ke Mella. Aku pun meminta Wulan, sahabatku, untuk membuatkan waru berwarna pink yang terbuat dari gabus. Nantinya, waru ini akan digunakan Mella untuk menjawab pertanyaanku. Jika dia mau menerimaku menjadi pacarnya, waru ini akan dia simpan. Tapi jika dia tidak mau menerimaku menjadi pacarnya, waru ini akan dia patahkan. Aku juga meminta Toni untuk merekam saat-saat aku menyatakan cinta kepada Mella dan saat Mella menjawab pertanyaanku. Satu lagi, aku juga meminta tolong pada sahabat Mella, Nana, untuk mengajak Mella ke taman, Kamis sore nanti.

Jam telah menunjukkan pukul tiga sore. Tanpa buang waktu, aku dan teman-temanku segera menuju ke taman. Sesampainya di sana, kami membersihkan taman terlebih dahulu. Karena taman itu kotor oleh daun-daun kering yang telah gugur. Tepat jam empat, aku mendengar suara motor Mella datang. Kami segara bersembunyi. Nantinya, kami akan memberikan kejutan untuk Mella. Kami akan datang secara tiba-tiba. Ketika Mella dan Nana sudah duduk di bangku taman, aku segera keluar dari tempat persembunyianku. Aku menyapa Mella dan memulai obrolan dengannya seperti biasa.

Setelah sekitar lima menit kami mengobrol, aku segera menyatakan cintaku. Kedua temanku yang masih bersembunyi juga ikut keluar sambil membawa waru dan juga handycam.

Aku segera mengatakan kepada Mella, “Mel, sebenarnya aku udah lama pengen ngomong ini ke kamu. Tapi aku masih nunggu waktu yang tepat. Dan hari ini aku rasa adalah waktu yang tepat. Hmm…. Sebenarnya…, aku benar-benar cinta sama kamu. Sayang sama kamu, Mel. I do love you, Mella. Mau ga kamu jadi pacar aku?”

“Apa-apaan sih Mi?! Ini tempat umum. Tau malu dikit dong!”

Ternyata Mella marah besar. Jauh dari harapanku. Mungkin dia malu diperlakukan seperti tadi. Mendadak taman menjadi sangat ramai oleh anak-anak kecil yang melihat kami. Seolah-olah mereka sedang melihat sebuah drama percintaan. Mella segera menarik tangan Nana dan mengajaknya pulang.

Teman-temanku segera menenangkanku. Aku hanya bisa menunduk dan tersenyum sedih atas kejadian tadi. Aku segera mengajak teman-temanku pulang.

***

Mella, maaf ya.
Aku tau, kelakuanku tdi bkin kmu malu. Maaf bgt yaa.
Tapi aku msih nunggu jwbanmu, Mel.
Sekali lagi, I LOVE YOU.


Aku segera mengirim pesan singkat itu kepada Mella. Aku sengaja mengirimkan pesan pukul sepuluh malam supaya tidak mengganggu waktu belajar dia. Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar. Dari Mella. Ternyata dia belum tidur.

G tau deh Mi. Males aku mikirin itu.
Yg jlas ak g ska cra kmu yg kyak tdi.


Jawaban dari Mella masih membuatku takut. Tapi apa maksud kalimat terakhir di pesan singkatnya.

Sekali lagi maaf banget Mel.
Aku bener2 gtau kalo kmu g ska cara aku.
Jadi, kmu mw ak gmna?


Beberapa menit kemudian, dia membalas pesan singkatku lagi.

Hmm. Ak udh mles ngadepin kmu.


Jawaban yang satu ini tambah membuatku bingung. Aku tidak tahu lagi apa yang harus ku per buat.

MAAAAFFFF bangeet Mel.
Maafin aku ya.


Satu jam aku menunggu, Mella tidak juga membalas pesan singkatku. Sudah lah, lebih baik aku membiarkan dia dulu.

***

Dari kejauhan, samar-samar aku melihat Mella sedang memperhatikan aku yang sedang mencontek PR milik temanku. Ketika aku melihat dan tersenyum padanya, dia justru memalingkan mukanya dan pergi menjauh. Kelihatannya dia masih marah padaku.

Saat jam pelajaran, aku curi-curi pandang terhadap Mella. Sialnya, hal ini ketauan oleh guruku.

“Almi, lagi curi-curi pandang sama siapa Mi? Ayo maju, jelaskan tentang bab ini.”

Guruku yang satu itu memang tidak galak. Tapi dia sangat memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh murid-muridnya. Seperti aku yang ketauan sedang curi-curi pandang. Dengan rasa malu yang memuncak, aku maju untuk menjelaskan bab yang sama sekali tidak aku pahami. Padahal demi bab ini, aku rela les privat.

Ketika aku menjelaskan sebisaku di depan kelas, Mella terus menatapku dengan pandangan yang tajam. Ini membuatku tambah tidak bisa menjelaskan. Untung saja guruku yang baik hati ini mau memahami keadaanku.

“Ya sudah sana duduk. Makanya lain kali perhatikan. Curi-curi pandangnya di kantin saja nanti.”

Aku kembali ke bangkuku dengan siulan dari teman-teman sekelas. Rasa malu ini sudah hampir pecah. Tapi, aku cuek saja dengan apa yang terjadi barusan.

***

Sudah tiga kali aku menelpon Mella. Dia tetap tidak mengangkatnya. Aku memutuskan untuk mengirim pesan singkat saja.

Mel, maaf yaa. Pliisss.


Dia tidak juga membalas. Aku masih menunggu balasan darinya sambil tetap memberi materi kepada adik-adik kelasku di SMP. Aku memang menjadi pelatih pramuka di SMPku dulu. Tiba-tiba ada salah satu adik kelasku yang bertanya.

“Kak Almi, lagi kenapa sih ka? Kok dari tadi ngomongnya salah-salah? Udah gitu, diem terus lagi. Ga kayak biasanya.”

Pertanyaan itu membuatku mati kutu di depan adik kelasku. Aku menjawab pertanyaannya dengan senyum polosku. Kemudian aku meninggalkan ruangan. Aku duduk di depan kelas sambil mengirimnya pesan singkat lagi. Isinya masih sama dengan yang tadi.

Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar. Dari Mella. Aku langsung tersenyum dan membaca pesan singkat itu.

Sorry lma. Ak hbis les.
Mau kmu ap sih? Ganggu trs.


Jawabannya ternyata masih ketus. Hal itu berarti dia masih marah padaku. Aku segera membalas pesan singkatnya.

Mau aku, kamu maafin aku Mel.
Plis ya.


Dia segera membalas.

G sgmpang it.
Udh lah. Bsk sre k rmh. Ngmng baik2.
Jgn lwt sms atau tlpn.


Hmm. Jawaban yang ini cukup menenangkanku. Tak sabar rasanya menunggu hari esok.

***

Seharusnya sore ini aku pergi untuk merayakan ulang tahun temanku. Tapi karena Mella sudah menungguku di rumahnya, aku harus membatalkan acaraku sendiri. Jam empat sore aku segera menuju ke rumah Mella yang tidak begitu jauh dari rumahku.

Sesampainya di sana, aku disambut ibunya yang sedang menyiram tanaman.

“Sore tante. Mau ketemu Mella ada tante?”

“Eh, masuk mas. Ada itu Mella di dalam. Temannya ya? Siapa namanya?”

Aku segera menjulurkan tanganku untuk menyalami ibunya. “Saya Almi tante. Teman sekelasnya Mella.”

“Oh. Masuk saja Mi. Mella, ini ada temannya. Ada Almi.”

Aku segera masuk rumah Mella. Wajahnya masih menampakkan kalau dia masih marah padaku. Dia kemudian menyuruhku duduk. Aku segera memulai pembicaraan kami.

“Maaf ya Mel.”

Tiba-tiba ibunya masuk, “Loh kok ga dikasih minum sih temannya? Sana ambilkan dulu.”

“Wah. Ga usah tante. Ngerepotin aja.”

Mella segera masuk dan mengambil segelas air untukku. “Makasih.” Aku bicara pelan.

“Jadi, bagaimana? Mau kan maafin aku.”

“Ngapain aku maafin kamu.” Jawab Mella ketus.

“Loh. Kok kamu gitu sih Mel ngomongnya. Aku kan udah minta maaf dengan baik-baik.” Sepertinya aku harus ekstra sabar menghadapi gadis ini.

“Iya Mi. Ngapain aku maafin kamu. Kamu kan ga salah. Jadi apa yang harus dimaafin.”

Jawabannya jelas mengagetkanku. Jadi selama ini dia tidak marah padaku. Tapi kalau tidak marah jadi apa maksudnya dia selalu menatapku dengan pandangan sinis.

“Sungguh Mel? Makasih banget kalo gitu. Tapi, dari kemaren kenapa kamu ngeliatin aku sinis gitu?”

“Kamu emang ga salah Mi. Tapi aku sebel. Aku sebel sama cara kamu itu. Malu-maluin tau.”

“Maaf Mel kalo tentang itu. Aku cuma pengen kasih kejutan aja buat kamu. Tapi ternyata caraku salah. Ya, seengganya, sekarang kamu udah tau kan aku ke kamu itu gimana.”

“Ya. Aku tau.”

“Singkat banget Mel jawabnya.”

“Emang aku harus jawab apa? Itu udah jelas kan?”

“Iya iya ko. Oh iya Mel, boleh ga aku minta jawabanku sekarang?”

“Enak banget kamu ngomongnya. Baru dibaikin dikit aja udah minta lebih.”

“Aduh. Salah lagi. Maaf deh mel.”

“Hmm. Maaf ya? Ada syaratnya!”

“Ya ampun. Syaratnya apa Mel?”

“Lawan ayahku main catur. Kalo menang, kamu bisa minta apa pun. Asal masuk asal. Kalo kalah, kamu yang nurutin aku. Deal?”

“Hah? Catur? Ga ada syarat lain Mel?”

“Mau ga? Kalo engga, juga ga apa-apa. Terserah kamu!”

“Eh, iyaa iyaa deal. Kapan?”

“Hari Minggu di minggu depan.”

Fyuh. Masih ada delapan hari untukku memperlancar main caturku. Aku memang bisa main catur. Tapi belum secanggih atlit nasional memang. Setelah keperluanku selesai, aku pamit pulang. Tidak enak berlama-lama di rumah Mella.

“Ya sudah Mel. Makasih banyak untuk semuanya. Aku pamit pulang. Ada di mana orang tuamu? Kalau beliau sibuk, pamitkan aku.”

“Itu ada. Pamit sendiri aja.”

“Oke. Aku pulang ya Mel. Om, Tante, saya pamit. Permisi.”

***

Ini benar-benar tantangan berat untukku. Melawan ayah Mella bermain catur. Sebelumnya, aku baru bisa mengalahkan bapakku sendiri dan juga Pak RT. Itu pun hanya sekali. Sepertinya aku harus berguru dengan bapakku dan Pak RT. Aku masih punya delapan hari untuk berlatih keras. Demi Mella. Ya demi dia.

Hari-hari aku habiskan dengan bermain catur. Aku juga searching trik-trik bermain catur di internet. Di sekolah, setiap aku bertemu Mella, aku selalu tersenyum padanya. Walau dia hanya menatapku dengan pandangan sinisnya.

***

Delapan hari telah berlalu. Sudah ku kerahkan semua mentalku. Sudah ku pahami semua trik yang aku dapatkan. Dari bapakku, dari Pak RT, juga dari internet. Hari minggu sore, sesuai janjiku dengan Mella, aku datang ke rumahnya lagi untuk bermain catur dengan ayahnya. Ayah Mella menyambutku dengan ramah. Sebelum bermain, beliau mengajakku mengobrol terlebih dahulu. Beliau menanyakan tentang keadaan akademikku di sekolah. Untung saja, nilai-nilaiku tidak terlalu buruk. Ya walaupun tak sebagus nilai Mella.

Setelah setengah jam kami mengobrol, ayah Mella mengajakku bermain catur.

“Mella sering cerita. Katanya kamu jago ya bermain catur?”

“Wah. Ga juga om. Baru bisa sekali menang lawan bapak dan pak RT. Bapak saya dan pak RT lebih hebat daripada saya.”

“Ha ha haa. Bisa saja kamu Mi. Ya sudah ayo kita mulai.”

Jantungku mulai berdegup agak kencang. Ayo Mi kamu pasti bisa.

Baru sepuluh menit kami bermain, sudah ada tanda-tanda kalau aku akan kalah. Tapi aku tetap yakin, aku pasti bisa. Sepuluh menit kemudian, SKAKK ! suara ayah Mella benar-benar mengagetkanku dan membuat jantungku makin berdegup kencang. Aku mencoba mengingat-ingat trik-trik yang telah aku pelajari. Seingatku, ayah Mella belum menggunakan trik yang aku siapkan. Inilah saatnya. Dan, SKAK! Skak yang kedua, akulah yang meneriakkannya. Trik ini lumayan juga, pikirku. Dan beberapa menit kemudian, aku menang!

Akhirnya. Bisa juga aku mengalahkan ayah Mella. Aku langsung tersenyum pada Mella dan ayahnya.

“Wah. Hebat juga kamu Mi. Tidak salah Mella menawarkan teman bermain. Selama ini om tidak pernah dikalahkan oleh anak seumuran kamu.”

“Hmm. Makasih Om. Hanya kebetulan ini Om. Kebetulan kemarin saya mempelajari trik-trik yang saya dapatkan dari bapak saya, dari pak RT, dan juga dari internet Om. Hehee.”

“Wah.. wah. Ternyata serius juga kamu ya mau mengalahkan Om.”

“Habisnya saya takut dengan ancamannya Mella, Om. Hehee.” Aku mengatakan itu dengan polos sambil menggaruk-garuk kepalaku.

“Loh. Ancaman apa?”

“Eh, engga Yah. Bisa-bisanya si Almi aja tuh.”

“Hahahaa. Ya sudah. Sana ngobrol sama Mella. Om mau masuk dulu.”

“Iyaa Om. Makasih Om.” Aku segera menagih janji Mella. “Jadi, sekarang aku nagih janjiku. Hehee.”

“Iyaa deh. Lagian kemaren juga aku ga marah ko. Cuma ngeledek kamu aja. Hehehee.”

“Wah. Dasar kamu Mel. Aku udah panik banget tau kamu marah kayak kemaren. Jadi, boleh dong aku minta jawaban dari pertanyaanku kemaren. Gimana Mel?”

“Mmm... Gimana ya Mi? Kalo engga gimana?”

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, teman-temanku masuk ke rumah Mella. Wulan, Toni dan juga Nana. Wulan masuk membawa waru yang kemaren dia buat. Toni dengan handycamnya. Dan juga Nana, dengan camera digitalnya. Aku yang sekarang benar-benar kaget. Ternyata Mella melakukan hal yang aku lakukan dulu. Bedanya, dia tidak perlu menyatakan cintanya. Tapi hanya menjawab pertanyaanku beberapa hari yang lalu.

“Boleh ga Mi?”

Pertanyaan Mella mengagetkanku. “Ya ga boleh dong Mella. Kan kamu udah janji. Eh, ini kamu ko?”

Mella langsung memotong omonganku. “Iyaa Mi. Aku gantian ngelakuin ini. Oke deh, berhubung aku udah janji. Lan, warunya.”

“Ini Mel.” Kata wulan sambil menyerahkan warunya ke Mella.

Tiba-tiba Mella mematahkan waru itu di depan mataku. Aku kaget setengah mati. Benar-benar kaget.

“Iya Mel. Aku terima jawaban kamu. Apapun jawaban kamu Mel.”

“Bagus deh Mi. Tapi kamu tau apa artinya ini?”

“Berarti kamu ga mau kan?”

“Itu kan aturan kamu. Aku kan juga punya aturan sendiri Mi. Ini pegang.” Mella menyerahkan separuh dari waru yang telah dia patahkan.

“Apa lagi ini maksudnya?”

“Ini kamu yang simpan. Ini aku yang simpan. Jadi, biar kamu inget aku terus. Aku inget kamu terus.”

“Jadi, kamu mau?” tanyaku untuk menegaskan jawabannya. Dia hanya mengangguk dan tersenyum. Aku pun tersenyum. “Makasih Mella.”

“Selamat yaa.” Tiba-tiba kedua orang tua Mella mengucapkan hal itu bersamaan. Aku pun hanya bisa tersenyum. Teman-temanku yang lain juga mengucap selamat dan meminta untuk merayakan hari jadi ini.

“Hehee. Makasih ya semua. Tapi kalo buat makan-makan, itu urusannya Mella aja deh. Hehhehee.”

“Yeh. Enak aja.”

“Hahahahaaa.”

Akhirnya, perjuanganku ga sia-sia. Aku bisa juga mengalahkan ayah Mella. Dan yang paling penting, bisa juga jadi pacar Mella.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar